Jangan Selalu Mau yang Instan

Berada di dunia modern yang serba canggih dan dikelilingi tehnologi maju memang menggiurkan. Semua apa yang kita perlukan begitu mudah didapat, cepat dan tidak ribet. Serba instan istilah yang kita kenal. Apalagi dengan adanya internet, peralatan gadget yang makin mendunia, semua terasa lebih mudah bagi kehidupan kita sehari-hari. Belanja untuk keperluan sehari-hari sedkarang sudah bisa dilakukan hanya dengan duduk di rumah. Sekalipun sibuk karena pekerjaan, masih bisa menikmati makanan yang enak dan fresh tanpa memasak. Ya belanja on line sedang digemari dan nampaknya akan semakin banyak masyarakat yang melakukannya.

Begitulah hebatnya manusia ciptaan Tuhan. Berkuasa atas bumi dan menaklukkannya (Kejadian 1:26)! Itulah yang terus dilakukan manusia. Mengembangkan segala sesuatu di sekitarnya untuk membuat kehidupan lebih menyenangkan dan terpenuhi apa yag dibutuhkan dengan gampang.

Tapi, tidak segala sesuatu dapat kita raih dengan mudah. Tidak semua hal harus didapat dengan cara instan. Tidak ada kesuksesan tanpa kegagalan. Tidak ada keberhasilan yang tidak melewati masa-masa perjuangan yang sulit. Kita bisa menikmati banyak hal dengan instan saat ini. Pikirkanlah, mereka yang menciptakan tehnologi canggih itu, harus berjuang keras menemukan sistem tepat dan formula paling sesuai sampai kemudian dapat digunakan oleh masyarakat luas.

Mark Zuckerberg, tidak serta merta berhasil menjadi milyader karena Facebook. Ia sudah pasti bergelut dengan komputer siang dan malam untuk membuat aplikasi ini sekian lama. Ia berjuang agar tujuan dari aplikasi FB dapat bekerja maksimal untuk memberikan informasi untuk orang-orang yang pernah kita kenal, untuk bisa tetap berkomunikasi sekalipun sudah berjauhan dan lama tidak menjalin silaturahmi.

Harland David Sanders, pendiri Kentucky Fried Chicken. Puluhan tahun dia berusaha melakukan berbagai bisnis. Berulang kali gagal. Tetapi dia tidak pernah menyerah. Dia terus mencoba lagi hingga menemukan bisnis yang membuka jalan sukses besar dalam hidupnya ketika sudah melewati usia tengah baya.

Jangan selalu mau yang instan. Tuhan lebih memperhatikan proses yang kita jalani ketimbang hasilnya. Tuhan lebih memperhatikan karakter. Oleh karena itu, relakan diri dibentuk oleh Tuhan dengan berbagai hal. Sebab Dia rindu kita semakin hari semakin menjadi seperti Dia (Mazmur 32:8-9; Ibrani 12:5,6,11)

Tujuan

Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah ini, seharusnya mahasiswa dapat:

  • Mendemonstrasikan ketaatan pada Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus untuk “menjadikan segala bangsa murid-murid-Nya” (Matius 28:18-20).
  • Menunjukkan suatu hubungan pribadi yang dinamis dengan Allah.
  • Memanifestasikan karakter, sikap dan gaya hidup sesuai dengan teladan Kristus.
  • Mendemonstrasikan kecakapan dalam kepemimpinan dan pelayanan gerejawi yang diberdayakan oleh Roh Kudus.
  • Memiliki pengetahuan Alkitab, teologi, pelayanan, dan pengetahuan umum demi mendukung pelayanan yang efektif.
  • Menunjukkan kehausan dan kesanggupan untuk belajar seumur hidup.
Falsafah

Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah ini, seharusnya mahasiswa dapat:

Motto

"Committed to Excellence and Relevance"

Visi

Menjadi Sekolah Tinggi Teologi Pentakosta-Kharismatik yang menghasilkan lulusan yang unggul dalam mutu di tingkat nasional dan regional serta relevan dengan perkembangan zaman.

Misi
  • Meningkatkan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang memiliki reputasi nasional dan regional serta beridentitas Pentakosta-Kharismatik.
  • Menuntaskan proses menjadi Sekolah Tinggi Teologi yang mandiri dan memiliki tata kelola yang baik.